Jumat, 24 Desember 2010

Tetap Indah dikala Siaga *** Bromo ***

Bromo, siapa tak kenal?? berkunjunglah kesana maka anda akan tau salah satu keindahan dunia di Indonesia.

Begitu pula saya yang beberapa minggu yang lalu berkunjung kesana, meskipun kondisinya tak begitu bersahabat. Saya berangkat dari Semarang Kamis (9Nov10), malam hari selepas magrib dengan menggunakan bis menuju Surabaya. Sengaja saya tak langsung ke Probolinggo, karena saya juga ingin berkunjung sejenak ke Surabaya. Sampai di Surabaya pagi jam 4.00, di terminal Purabaya. Saya beristirarahat dan melakukan kunjungan sejenak ke pusat kota Surabaya. Pukul 11.00 saya berangkat ke Probolinggo dengan bus, sampai di Probolinggo sekitar pukul 14. Dari terminal, saya menggunakan ojek, karena tak ada "Taxi" (Sebutan bagi angkutan umum ke Cemoro lawang) yang berangkat kesana. Saya harus mengocek lebih dalam kantong saya, karena sudah beberapa minggu ini wisatawan menuju Bromo sedikit, karena bromo dalam kondisi siaga. Samapai di Cemoro Lawang pukul 15, saya disambut dengan rintik hujan dan kabut tebal...

Terletak diantara perbatasan Kabupaten Probolinngo, Malang, Lumajang, dan Pasuruan, Gunung Bromo berada pada ketinggian 2.392 mdpl. Keindahannya tidak diragukan lagi. Kawah gunung yang menganga, berada pada barisan gunung-gunung lain, yaitu semeru, batok, dan dikelilingi lautan pasir (kaldera) di sekitaran Bromo adalah fakta nyata bahwa gunung ini patut menjadi destinasi wisata alam di Indonesia. Maka jangan heran jika anda kesana akan menemui gerombolan wisatawan asing, karena memang kemasyhuran gunung bromo sudah terkenal kemana-mana.
Gunung Bromo dan Batok
Bagi Suku tengger Bromo adalah Gunung Suci, seperti saat saya mengunjungi kesana, baru saja diadakan ritual untuk menyambut Galungan dan kemudian dilanjutkan pada beberapa minggu berikutnya ritual Kuningan. Bromo berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Brahma, seorang dewa utama hindu -wikipedia-.
Saat saya berkunjung kesana, Bromo sedang aktif dalam status siaga, sehingga wisatawan hanya bisa melihat paling dekat 2 Km dari puncak Bromo atau berada pada pure Luhur Poten di sekitar kaldera Gunung Bromo dan Gunung Batok. 


Ganesha dan Bromo
Pagi hari pukul 4, di puncak penanjakan, sudah cukup ramai wisatawan untuk melihat sunrise, namun sampai pukul 6 matahari, bromo, batok, dan semeru tak terlihat karena kabut begitu pekat, sehingga pada sebagian wisatawan nampak kekecewaan. Namun bagi saya, wajah Bromo dan Batok yang begitu samar-samar karena kabut memiliki keindahan tersendiri, sehingga bagi saya tak ada rasa kecewa untuk menikmati salah satu keindahan yang diberikan Allah SWT untuk Indonesia ini. 
Sampai pukul 8, sudah banyak wisatawan yang mulai turun menuju pelataran Gunung Bromo, untuk melihat  lebih dekat aktivitas siaga gunung Bromo. Didepan tangga menuju Puncak Bromo sudah bersiap ranger (petugas pengamanan dan evakuasi) untuk memberikan peringatan bagi wisatawan yang masih bandel yang ingin menuju kawah Bromo.


Wisatawan di Penanjakan
Menurut beberapa pribumi di desa Cemoro Lawang, sudah hampir satu bulan Bromo berada pada kondisi Siaga, dan aktivitas kawah Gunung Bromo belum menampakkan tanda-tanda untuk turun. Kondisi ini mempengaruhi jumlah pengunjung yang semakin turun beberapa minggu terakhir. Seperti yang saya lihat, cenderung lebih banyak wisatawan asing daripada wisatawan domestik mengunjungi Bromo.

Berkunjunglah ke Bromo untuk melihat, tafakur, merasakan, dan mesyukuri salah satu keindahan dunia..

Catatan:
1. Kalau ingin berkunjung ke Bromo, berangkatlah pada bulan Juli-Agustus, karena musim panas, cuaca cenderung cerah dan bisa melihat Sunrise dari Penanjakan

2. Biaya perjalanan Backpaker :
* bus Surabaya - probolinggo : Rp 20.000
* angkutan "taxi" probolinggo - cemoro lawang : Rp 25.000, Ojek : Rp 50.000
* penginapan : antara Rp 100.000 - Rp 500.000
* jeep Hardtop Cemoro lawang-Penanjakan-Bromo PP : Rp 275.000 (bisa untuk 6 orang -lebih hemat-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar