Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juli 2011

Cerita Saya dari Aceh


Aceh, negeri indah di ujung barat sumatera, titik nol kilometer Indonesia. Tak pernah terbayang sebelumnya saya berada di tanah rencong ini, apalagi untuk tinggal berbulan-bulan. Tapi sudah hampir 3 minggu saya menghabiskan masa disini, di tanah aceh. Kekaguman saya yang dulu hanya sempat saya saksikan di buku-buku atau internet, kini menjadi nyata. Di tanah inilah Daud Beureuh, Teuku Cik di Tiro, Cut Nyak Dien, dan Malahayati memperjuangkan aceh dari gangguan tangan-tangan busuk penjajah. Di tanah ini pula romantisme, ketegangan, dan kepiluan sungguh amat sangat terasa, membunuh sejuta penasaran, membuktikan semua pertanyaan. Kisah heroik DI/TII oleh Daud Beureuh, Masa-masa menegangkan konflik, dan kepiluan tragedi tsunami, membuat saya jatuh cinta dengan negeri ini.

Setelah sehari saya menginjakkan kaki di Banda Aceh, lagi-lagi sebuah anugerah mengantarkan  saya untuk bisa berkeliling pesisir laut timur dan barat. Mulai dari Banda Aceh hingga langsa, mulai dari Singkil hingga kembali ke Banda Aceh. Kurang lebih satu pekan saya habiskan perjalanan. Walaupun tujuannya bukan untuk berwisata, kesempatan roadshow ini tak boleh saya sia-siakan. Mengunjungi hampir semua Kabupaten untuk mengumpulkan informasi kerja membawa saya ke sejumlah tempat yang memiliki karakter-karakter unik. Tak lupa dalam perjalanan menyisipkan mampir di tempat-tempat makan yang khas. Lengkap sudah kepuasan saya. Melewati pesisir pantai, menerobos lika-liku bukit barisan dan hutan sawit, serta menyebrangi muara dengan rakit adalah penyedap perjalanan.

Aceh, berbeda dengan jawa. Kultur, kekayaan alam, pemerintahan, bahkan urusan harga. Kearifan lokal Aceh menyimpan sejuta pesona. Dalam sejarahnya, Aceh selalu istimewa. Pernah dalam suatu masa, seluruh rakyat Aceh mengumpulkan kekayaan untuk membeli pesawat tempur bagi Indonesia. Yang tentunya tak bisa dilupakan adalah kepiluan tsunami dan ketegangan konflik. Namun semua itu sudah berlalu. Aceh kini hidup nyaman dalam damai. Kehidupan masyarakat kembali normal, ekonomi semakin tumbuh pesat, syariat bisa menjadi dasar pemerintahan.

Bercerita Aceh tak akan luput dari makanan khas. Sekali lagi, Aceh memberikan nuansa berbeda dalam masalah kuliner. Sejumlah makanan khas dapat disantap di setiap sisi kota Banda Aceh. Mulai dari Mie Aceh, Sate Matang, Mie kepiting, Gulei kambing dan bebek, Ayam tangkap, dan sejumlah makanan lainnya yang penuh citarasa. Belum selesai membahas makanan, tentunya tak akan terlupakan di Aceh adalah membahas masalah kopi. Hampir semua di wilayah Aceh, terutama di pusat-pusat kota, akan tersebar sejumlah warung kopi, baik yang berukuran kecil, maupun besar dan lengkap pula dengan sejumlah fasilitas. Warung kopi adalah tempat favorit masyarakat Aceh, baik tua maupun muda untuk menghabiskan waktu-waktu luang. Dan masing-masing warung kopi, mempunyai supir (sebutan untuk koki kopi) yang handal untuk meracik kopi. Beberapa kopi yang menurut saya khas adalah kopi Berawi (di belakang Mall Hermes) dan kopi Ulee Kareng. Namun yang menjadi catatan adalah, setiap warung kopi pasti akan ramai, siaang ataupun malam, terutama di Banda Aceh.

Masih ada waktu 3-4 bulan lagi, saya akan stay di Aceh. Pasti akan muncul kejutan-kejutan baru, pengalaman-pengalaman baru yang akan saya dapatkan.

Selasa, 24 Mei 2011

Solo Indie Touring #2

Sabtu pagi di Koto Solo. Matahari tanpa malu-malu menyapa setiap warga solo dengan hangat. Di stadion Manahan, sejumlah warga sedang berolahraga. Ibu-ibu, bapak-bapak, pemuda dan anak-anak sekolah sibuk dengan rutinitasnya masing-masing, mengisi pagi dengan gerakan-gerakan sehat. Manahan berdiri gagah. Stadion ini adalah kandang dari klub sepakbola Persis Solo dan Solo FC. Dan disinilah pada setiap pertandingannya Pasoepati (Julukan Suporter Sepakbola Kota Solo) yang akan memerahkan tribun-tribun. Solo adalah kota bersejarah bagi sepakbola Indonesia. Tahun 1930, kongres di Solo menghasilkan nama Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang masih dipakai hingga sekarang. Di bagian lain Kota Solo, sedang ada hajatan besar. Taman Budaya Jawa Tengah menjadi saksi pembukaan Pekan Informasi Nasional yang kali ini digelar oleh Kota Solo. Sejumlah Menteri, Gubernur Jawa Tengah dan para Kepala Pemerintahan dari tiap kota di Jawa Tengah turut hadir menyaksikan pembukaan PIN.

Stadion Manahan
Sudut Stadion Manahan
Sabtu pagi menjelang siang, selepas chek out, saya berkunjung ke kompleks Taman budaya Sriwedari. Beruntung pagi itu ada pertunjukan wayang orang ”Gatot Kaca”. Pagi itu saya menonton pertunjukan wayang orang dengan gratis, karena bersamaan dengan rombongan dari diknas.

Wayang Orang
Usai menonton pertunjukan wayang orang saya ngesot ke Museum Radya Pustaka yang berada di sebelah taman Budaya Sri Wedari. Di Museum tersebut terdapat sejumlah barang pusaka dan antik. Di museum tersebut pula terdapat koleksi buku-buku tua yang tersimpan rapi di perpustakaan Radya Pustaka, tepat ruang ditengah museum tersebut.

Meriam di depan Museum
Patung Penghuni Museum
Arca : Jangan di sentuh
Seperangkat Gamelan
Gong Gamelan
Dari Museum Radya Pustaka, saya melanjutkan mencari sarapan, dan kemudian menuju Masjid Agung Surakarta yang terletak di kompleks Keraton Surakarta Hadiningrat. Begitu saya masuk kedalam masjid, saya melihat sejumlah manusia bergelimpangan tidur di serambi Masjid. Seperti halnya masjid Mangkunegaran, Masjid Agung Surakarta juga menjadi tempat favorit untuk melepas lelah. Masjid Agung Surakarta dibangun sejak Raja Surakarta Pakubuwono III dua abad silam. Arsitekturalnya yang anggun dan kemegahan yang terlihat dibalik sejarah panjang masjid ini sukses membuat saya kagum. Terlebih karena keramahan bangunannya yang mau menampung orang-orang untuk beristirahat.

Gerbang Masjid Agung Surakarta
Masjid Agung Surakarta
Suasana Siang di Serambi Masjid Agung Surakarta
Usai sholat dzuhur dan menjamak sholat ashar, saya sejenak berkeliling kawasan Keraton Surakarta Hadiningrat, sambil menunggu Karnaval Kirab Budaya. Tembok-tembok besar yang dibatasi gang-gang membuat kompleks keraton semakin terasa eksotis. Wisatawan lokal dan mancanegara terlihat sumringah diatas becak yang dikayuh di sekeliling kompleks keraton. Sejumlah cinderamata dijajakan oleh para pedagang, menggoda setiap para pelancong yang berjalan didepannya.

Gerbang Keraton
Kawasan Kraton Surakarta Hadiningrat
Pukul tiga siang, saya telah bersiap-siap di sisi jalan Slamet Riyadi, mencari tempat yang strategis untuk melihat Kirab Budaya Nusantara. Karnaval Budaya ini akan mulai start pukul dua dari lapangan Kota barat. Semakin sore, Jalan Salamet Riyadi penuh sesak oleh warga Kota Surakarta. Keceriaan seluruh warga membaur di sisi jalanan. Para pedagang pun tak mau kehilangan moment, mereka berlomba-lomba mengais rezeki dari meriahnya karnaval budaya, seolah hari itu adalah hari baik mereka mengumpulkan pundi-pundi untuk kelangsungan hidup.

Menjelang Kirab Budaya Nusantara
Selang beberapa jam, arak-arakan mulai terlihat dari kejauhan. Barisan marching band adalah barisan terdepan dalam karnaval ini. Para tentara dengan gagahnya menabuh drum, meniup terompet, dan melakukan atraksi-atraksi. Kemudian diikuti barisan paskibra yang membentangkan spanduk besar Kirab Budaya Nusantara. Pasukan berbaju merah dan biru seolah mengawal kereta kencana yang berada dibelakangnya. Lalu diikuti hewan-hewan besar seperti gajah, unta, dan kuda yang ditunggangi oleh para wayang dan tentara. Sejumlah adat budaya dari perwakilan daerah pun turut meramaikan arak-arakan karnaval. Dan yang tak mau kalah adalah barisan anak-anak sekolah yang menampilkan pernak-pernik kreativitasnya, menjadi model dan pentas seni jalanan.

Kirab Budaya Nusantara
Parade karnaval Kirab Budaya Nusantara menjadi hiburan gratis warga Kota Solo. Sekitar pukul lima sore, parade berakhir. Saya melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta untuk singgah dan mengejar film The Mirror Never Lies yang tak kunjung muncul di Semarang. Saya menancap gas, meninggalkan Kota Solo. Seperti saat datang, saat pulang pun Kota Solo mengantarkan kepergian saya dengan mendung. Kota budaya akan selalu dirindukan oleh para wisatawan, begitu pun Solo yang menjadi Spirit of Java.

*Gallery Foto Kirab Budaya Nusantara ada pada postingan selanjutnya

Senin, 23 Mei 2011

Solo Indie Touring #1

Kali ini saya berkesempatan menyambangi salah satu kota budaya di Jawa Tengah. Solo. Sebuah kota yang saat ini sedang naik daun karena keberhasilan sang walikota yang sukses meningkatkan image kota menjadi kota lebih berbudaya dan humanis. Ini adalah indie touring kesekian kalinya dengan motor Legenda saya. Saya beri nama perjalanan kali ini Solo Indie Touring. Sesuai dengan itinerary yang telah dibuat, saya berangkat jumat (20/5) pukul 10 pagi. Saya menempuh rute Semarang-Ungaran-Salatiga-Boyolali-Solo. Sekitar pukul satu saya sampai di Solo, setelah sempat singgah untuk sholat jumat di Boyolali.


Mendung menyambut saya di kota solo. Siang itu Jalan Slamet Riyadi tak begitu ramai. Sesaat saya menghentikan motor, untuk kemudian menyimpan beberapa perlengkapan dan sejenak merebahkan punggung di penginapan. Belum pula berniat keluar untuk keliling, hujan deras mengguyur. Riuh butir-butir hujan jatuh didepan teras kamar tempat saya menginap. Mata yang tak mampu menahan kantuk, akhirnya terlelap. Lumayan, saya habiskan beberapa waktu di dalam mimpi abstrak.

Hari menjelang sore, setelah sholat ashar, saya iseng menyambangi Solo Grand Mall, membeli peta Solo untuk menambah koleksi peta saya. Tak diduga saya tergoda saat melihat banner Film Batas. Akhirnya saat itu pula saya putuskan untuk menonton, dan saya menghianati rencana saya yang harusnya sore itu bertandang ke Laweyan. Tak apalah, memang ngebet jg nonton film ini. Pendapat pribadi setelah nonton Batas, Not bad lah, walaupun konfliknya kurang greget, dan alurnya membuat saya ngantuk. Setidknya film ini sudah berani bercerita tentang kondisi Indonesia di garis perbatasan.

Usai nonton, saya memacu kendaraan menuju masjid mangkunegaran. Saat duduk di teras masjid, saya berjumpa dengan seorang ibu, dan kemudian beliau bercerita tentang keluarganya. Ternyata si ibu ini adalah pengurus masjid tersebut. Beliau bercerita tentang suaminya yang dulu adalah bendahara masjid. Kemudian semenjak ditinggal wafat suaminya, ibu yang dikenal dengan panggilan mbah hadi ini tak pernah pulang ke rumah, dan tinggal di masjid. Beliau bilang kalo mau tidur di masjid ini juga ga papa. Memang pada malam hari, masjid mangkunegaran yang kini dikenal dengan nama Masjid Al-Wustho akan penuh dengan para tukang becak atau pedagang yang tidur disana. Masjid ini adalah tempat favorit untuk bermalam, karena aman. Lain kali masjid ini bisa jadi opsi untuk tempat bermalam di Solo. Tak terasa, matahari sudah meredup tenggelam di ufuk barat. Sebentar lagi adzan magrib berkumandang. Saya menyegerakan untuk berwudhu. Sebelum melanjutkan perjalanan, saya ingin menghadap Sang Kuasa.

Puro Mangkunegaran
Saya kembali memutar gas motor bakda sholat magrib ke arah puro mangknegaran. Malam itu saya berniat melihat Mangkunegaran Performing Art. Event yang di selenggarakan di Puro Mangkunegaran ini adalah bagian dari sejumlah agenda Pekan Informasi Nasional yang dilaksanakan di Kota Solo. Sejumlah agenda budaya akan digelar di berbagai tempat di Kota Solo selama satu pekan. Malam itu ada 4 tarian yang dipersembahkan untuk warga solo, para penikmat seni, fotografer, dan para wisatawan yang berkunjung ke puro mangkunegaran. Empat tarian tersebut adalah Gambyong Pareanom, Srimpi Pandelori, Wireng Narayana Kalakresna, dan Bregodo Pareanom.

Tim Gamelan
Tari Gambyong Pandelori
Tari Gambyong Pandelori
Penari Srimpi Pandelori
Tari Srimpi Pandelori
Tari Srimpi Pandelori
Tari Wireng Narayana Kalakresna
Tari Bregodo Pareanom
Waktu semakin malam, sekitar pukul sepuluh, pergelaran tari puro mangkunegaran usai. Perut keroncongan mendera. Tak tahan, saya langsung mencari wedangan (angkringan/kucingan) terdekat, mencoba menenangkan gemuruh di perut saya. Saya embat 2 nasi bungkus dan 2 gorengan plus es teh manis yang tak sampai merogoh kantong saya terlampau dalam. Memang warung kaki lima seperti wedangan/angkringan/kucingan khas kota-kota di jateng adalah tempat yang paling manusiawi untuk menyantap makanan murah meriah.

Sabtu, 16 April 2011

Cerita Tentang Gathering IndoBackpacker 2011



Pekan lalu (9-10 April 2011), salah satu komunitas Backpacker Indonesia, IBP, mengadakan acara gathering. Ini adalah untuk kesekian kalinya, para backpacker Indonesia yang tergabung didalamnya mengadakan trip akbar untuk saling berkenalan dan berbagi dalam satu forum, baik yang masih pemula (ecek-ecek) seperti saya, maupun yang udah malang-melintang di dunia traveling dan per-bacpack-an. Bagi yang newbie, acara ini sekaligus menjadi ajang perkenalan dan pencarian travel-mate dari sejumlah orang-orang yang belum saling kenal.

Diawali pertemuan di stasiun bogor, lokasi meeting point untuk menuju lokasi gathering di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Saya tergabung dalam kelompok lima, dan termasuk kelompok yang paling akhir berangkat. Kami bersepuluh adalah kawan-kawan yang pada mulanya belum kenal sama sekali. Perjalanan dimulai pukul 10.15 WIB dari pusat kota bogor menuju daerah pinggiran kabupaten Bogor, Leuwiliang. Perjalanan menuju TNGHS cukup sulit setelah masuk kedalam wilayah Kecamatan Nanggung. Tanjakan dan lika-liku perjalanan menjadi tantangan kami untuk melawan rasa mual didalam sebuah mobil Carry. Semakin lama, jalan semakin sepi, kanan-kiri jalan terhampar hutan, sawah dan perbukitan. Tanjakan pun semakin curam, beberapa kali kami harus turun mobil, karena mobil tak kuat.

Road to Citalahab
Setelah kurang-lebih 3 jam perjalanan, kami tiba di pintu gerbang Taman Nasional Gunung Halimun. Ternyata perjalanan kami belum usai. Kami harus masuk kedalam kawasan Taman Nasional sampai ke divisi Citalahab. Perjalanan semakin sulit, karena harus melewati jalan bertanah batu. Mobil carry yang diisi bersepuluh, harus ber-offroad ria. Kami didalam semakin tak karuan, merasakan perpaduan antara pusing, mual dan panas. Kurang lebih satu jam kami melewati jalan berbatu menanjak dan berliku. Sesekali kami istirahat dan turun untuk membantu mengganjal ban mobil agar mampu menanjak. Untungnya pemandangan sekitar TNGHS sungguh indah, udara yang sejuk dan hamparan bukit kebun teh menjadi penawar perjalanan kami yang melelahkan.

Hamparan Kebun Teh
Kontrasmu Harmoni
Akhirnya titik terang semakin jelas. Harapan kami tak pupus, setelah melihat spanduk acara Indo Bacpacker terpajang diantara ilalang. Sekitar pukul 16.00 kami sampai dengan selamat di kawasan homestay Eco-Tourism TNGHS. Sampai di kawasan homestay, kami langsung istirahat, merenggangkan otot yang sudah cenat-cenut di saung pendopo dan membabat makanan yang masih tersisa, dilanjutkan dengan menjamak sholat ashar dan dzuhur, mandi serta istirahat.

Anak-anak Citalahab
Malam harinya semua peserta berkumpul di saung pendopo, sebelum makan diadakan sesi perkenalan. Ternyata peserta yang mengikuti acara ini kurang lebih sekitar 50an peserta dari berbagai daerah, walau sebagian besar berasal dari Jakarta dan Bogor. Setelah perkenalan, para peserta diberikan penjelasan singkat mengenai eco-tourism di TNGHS oleh para pengelola TNGHS yang notabene adalah penduduk asli citalahab. Makan malam tiba, acara ini adalah ajang isi tenaga untuk trekking malam.


Acara puncak malam itu dilakukan trekking untuk melihat jamur menyala. Sepanjang 2200 meter melewati hamparan kebun teh kami berjalan menuju lokasi tempat tumbuhnya jamur menyala yang lebih dikenal oleh orang sekitar dengan sebutan supalumar. Jamur supalumar yang dimaksud memiliki ukuran yang kecil. Berdiameter sekitar  0,5 cm, dan biasanya hidup di permukaan kayu yang sudah patah. Kurang lebih 30 menit menikmati indahnya jamur-jamur yang menyala, kami kembali ke homestay. Sampai di saung pendopo, ternyata telah disuguhkan kudapan khas sunda untuk menghangatkan malam kami. Pisang goreng/rebus, ubi rebus, dipadu dengan jahe dan teh anget, menjadi pengganjal perut kami sebelum tidur.

Supalumar 
Keesokan paginya, setelah sarapan, kami langsung berkemas dan bersiap untuk trekking menuju Curug Piit. Salah satu curug yang terdapat di kawasan TNGHS. Untuk menuju kesana kami harus menggunakan mobil sejauh kurang lebih 7-8 Km dari homestay, setelah itu kami harus tekking selama 2 jam menuju Curug Piit. Medan trekking cukup berat, untuk menuju curug kami harus melewati alas dengna kecuraman 45-60 derajat, ditambah lagi dengan kondisi jalur yang licin, dan dibeberapa titik jalur terhambat oleh runtuhan pohon-pohon yang tumbang. Namun, tekad semangat menjadi pembakar semangat. Setelah sampai di Curug, terbayar sudah rasa lelah kami. Satu lagi Mahakarya Tuhan, alam Indonesia mempersembahkan kepada kita. 


Tragedi Mobil Amblas Menuju Curug
Jalur Trekking
Piit Waterfall
Setelah beristirahat dan menikmati segarnya air curug piit, kami harus kembali. Kali ini medan menuju chek point terasa sangat berat, karena kami harus melewati jalur yang menanjak, berlawanan dengan jalur berangkat. Untungnya semua peserta sampai dengan selamat. Akhirnya kebersamaan kami ditutup dengan makan siang dan foto-foto. Setelah itu kami semua melanjutkan perjalanan pulang sesuai dengan kelompok masing-masing. Pengalaman pertama Gathering IBP begitu menggoda, selanjutnya..... :D 

Peserta Gathering IBP 2011
Foto oleh R Heru Hendarto




Rabu, 06 April 2011

Masjid Agung Banten : Glory and Spiritualism

Berkunjung ke Masjid Agung Banten, seolah menapak tilas kejayaan Banten dimasa lalu. Kemegahan Masjid, menara yang menjulang, pelataran Masjid yang dipenuhi dengan makam-makam ulama dan sepuh Kesultanan Banten, memberikan aura spiritualisme yang besar kepada setiap pengunjungnya. Saya merasakan ini saat berkunjung untuk melaksanakan Sholat Jumat di Masjid Agung Banten.

Kesultanan Islam Banten memiliki sejarah kejayaan yang terkenal di seluruh dunia pada masanya. Kejayaan ekonomi pada masanya ditandai dengan adanya pelabuhan dagang yang ramai dari seluruh dunia. Dibidang politik, Banten mempunyai duta besar/diplomatik di Inggris. Sungguh, bagi saya ini adalah kemajuan yang luar biasa.

Greater Masjid Agung Banten
Masjid Agung memang selalu ramai pada hari jumat, apalagi pada bulan-bulan tertentu seperti mulud dan ramadhan. Peziarah yang datang tidak hanya dari sekitar Banten, tapi juga dari berbagai pelosok baik di Jawa maupun diluar jawa. Bagi para petualang ziarah, Banten pasti menjadi Top List tempat ziarah di Indonesia. Sejarah kejayaan, kemegahan arsitektural, dan kealiman para masyaikh di Kesutanan Banten adalah daya tarik utamanya.

Suasana Menjelang Sholat Jumat
Munfarid
Setiap hari Jumat, selalu ada ziarah umum yang dilaksanakan bersama dengan dipimpin oleh imam masjid. Ziarah umum dilakukan ba’da Sholat Jumat. Setelah dzikir jumatan, ratusan peziarah akan memadati area sekitar makam yang berada di serambi masjid. Setelah para makmum telah siap, sang Imam akan memulai memimpin doa yang kemudian akan diikuti dan diaminkan para makmum. Sungguh, walau saya hanya melihat ritual ini dari balik pagar tembok area makam, saya merasa merinding mendengar doa-doa yang mengalun begitu sakral.

Bersiap Ziarah
Menunggu Ziarah
Bagi Masjid Agung Banten, ziarah adalah aktivitas yang tak pernah berhenti. Selain hari Jumat, hampir setiap hari keberadaan makam-makam sepuh dan ulama banten dimasa lalu menjadi magnet bagi para peziarah dari berbagai daerah. Ziarah memiliki makna yang dalam. Ziarah merepresentasikan perasaan pada kehidupan duniawi yang perlu diseimbangkan dengan mengingat kematian. Ritual ziarah seolah memberikan energi positif yang menjadi sebuah keyakinan dalam batin bagi para pelakunya. Ziarah juga sebagai bukti simbolisme pengidolaan kepada leluhur, tanda syukur dan pengharapan.

Keberadaan Masjid Agung Banten yang saat ini menjadi pusat wiasata ziarah di Propinsi Banten, memberikan berkah tersendiri bagi masyarkat sekitar Masjid. Warung Kaki lima berjamur tak karuan di sekitaran Masjid, mulai dari warung makan, makanan kecil khas banten, serta warung souvenir seperti peci, tasbih, dan alat-alat ibadah lainnya dijajakan terbuka. Walau demikian, bagi saya hal ini cukup mengganggu estetika. Kondisi ini menampilkan kekumuhan yang tidak sedap dipandang, belum lagi kotornya area pelataran halaman Masjid karena penuh sampah yang bertebaran. Jika saja keberadaan para pedagang diakomodasi dan dikelola dengan dibuat cluster khusus, tentunya hal ini akan jauh lebih baik.

Transaksi
Meriam Tempur

Rabu, 02 Maret 2011

Jelajah Pantai Selatan Gunung Kidul

Hari menjelang siang, motor siap2 saya panaskan karena akan menempuh cukup jauh perjalanan menuju selatan kota jogja. Kali ini saya akan menjelajah pantai selatan ”Laut Kidul” di wilayah sekitar Gunung Kidul. Berangkat sekitar pukul 11.00, saya menancap gas menuju ringroad selatan kota jogjakarta. Setelah membeli beberapa perbekalan minum dan makanan ringan, saya mengambil jalur jogja-wonosari ke arah piyungan, dan lanjut ke perbukitan Gunung Kidul. Perjalanan cukup lancar, jalan dari kota jogja menuju Gunung Kidul mulus dan berliku, melewati alas yang rimbun. Menanjak, menurun, menikung akan menjadi bagian perjalanan menuju pesisir selatan Gunung Kidul. Kali ini saya akan menyambangi beberapa pantai, yaitu Pantai Baron, Kukup, Krakal, Sundak dan Indrayani.

Saya harus menempuh jarak sekitar 60 Km ke arah selatan untuk mencapai pantai selatan gunung kidul. 40 km pertama saya harus sampai dulu di kota kecil Wonosari, kemudian diteruskan 20 km lagi ke pantai baron. Perjalanan ini saya tancap dengan santai. Sampai pantai baron kira-kira pukul 12.30.

Kisah Nelayan Pantai Baron

Siang itu saya baru saja sampai di pantai baron yang masih pasang. Beberapa menit saya mengambil gambar, ada 2 perahu nelayan yang menepi. Para nelayan2 yang lain turut membanti menarik kapal yang baru saja singgah, disinilah gotong-royong penduduk nelayan kental terlihat. 


Kapal sudah selesai di parkir, berbondong-bondong ibu-ibu menghampiri kapal melihat-lihat bawaan ikan hasil melaut hari itu, saya pun turut serta melongok kesana. Tak banyak ikan yang ditangkap hari ini. ”Hari ini ga banyak de, soalnya jaring sampah” (saya artikan dari bahasa jawa), setelah saya tanya berapa banyak ikan yang diapat. ”Saya melaut dari jam 4 pagi tadi, di sekitar parang tritis, tapi karena jaringnya ngangkut sampah, jadinya saya pulang” kata mas andri salah satu awak nelayan yang itu melaut bersama 2 rekan lainnya. Ya.. hari itu setidaknya ada 2 kapal yang langsung pulang, akibat jaring sudah ga bisa ditebar karena penuh sampah. Kalau begini yang disalahkan yang orang-orang yang membuang sampah disungai, yang akhirnya sampah bermuara di laut. 1 Kg udang dan beberapa kilo ikan campur-campur langsung dijual nelayan disana. Biasanya ikan-ikan dibawa ke pelelangan koperasi, tapi karena ikan yang dibawa hanya sedikit, yah langsung dijual ditempat.

Kapal Baru Menepi
Membersihkan Jaring
Pantai baron berbentuk menjorok ke darat dan dikelilingi oleh bukit, sehingga pantai ini terlihat sempit dan tertutup jika nampak dari atas. Hamparan pasir putih dan perahu-perahu nelayan yang memajang di pinggir pantai membuat pantai ini nampak eksostis. Pantai baron dapa dinikmati langsung maupun dapat dilihat keindahannya dari bukit disisi pantai.

Pantai Kukup, Krakal, Sundak, dan Indrayani

Melanjutkan 1 Km kearah timur, motor saya kebut ke pantai kukup. Sebenarnya saya lebih suka pantai kukup, karena pantainya lebih bersih, tanpa perahu-perahu nelayan, plus ada bangunan di pulau karang seberang pantai bak tanah lot saja di bali (hehe). Pantainya berpasir putih dan angin lautnya kencang sekali.


Pantai Kukup

Menuju pantai Krakal, sundak, dan Indrayani harus menempuh 6 Km kearah timur, melewati beberapa barisan bukit dan alas, membuat saya ngeri juga mengendara motor sendirian. Jalanan bagus, namun sepi kendaraan. Pantai Krakal dan sundak memiliki tipe pantai yang memanjang dan berpasir putih. Saya sudah terbiasa melihat pemandangan pantai ini di Anyer, sebelah barat Cilegon, tempat tinggal saya. Tak terlampau istimewa bagi saya dibandingkan dengan pantai kukup atau baron, yang menurut saya lebih unik dari pantai krakal dan sundak. Di pantai Krakal dan sundak saya hanya singgah sebentar untuk mengambil gambar, karena saat itu sudah mulai siang, mepet dengan waktu pulang saya ke Semarang. Setelah sedikit mengambil gambar di pantai Sundak dan Krakal, saya melanjutkan ke pantai Indrayani. 


Hati-hati Kelelep
Pantai Krakal
Pesisir Pantai Sundak
Mata saya terbelalak saat sampai di pantai Indrayani, siang itu ramai warga sekitar sedang memperbaiki saung-saung yang hancur karena diterpa air laut pasang. ”Sudah 4 hari air laut pasang, sampai bikin hancur pantai mas” Kata salah seorang bapak yang sedang berisitirahat setelah memperbaiki salah satu saung yang hancur. Mengenaskan memang, sebenarnya pantainya biasa saja, tetapi karena saung-saung yang berjejer di pinggir pantai, pantai Indrayani terlihat cantik. Namun karena ombak pasang, jadilah siang itu saya hanya melihat pemandangan sibuk warga sekitar yang bergotong-royong memperbaiki saung-saung di tepi pantai.


Warga Memperbaiki Saung di Pantai Indrayani
Saat di pantai kukup, saya sempat duduk2 di tepi pantai berkontemplasi ”apakah motor saya masih kuat sampai pulang ke semarang?” hehe.. soalnya ni kendaraan yang saya pake adalah legenda yang diproduksi sekitaran 8 taon yang lalu. Tapi keulatan tekad dan keyakinan yang kuat, Alhamdulillah The Legend mengantar saya dengan selamat sampai Semarang.